Sejarah Desa

Pada Jaman Kerajaan Datu Luwu/Pajung ri Luwu, Pandoso adalah bagian dari kekuasaan To makaka SIAPA

Pada Jaman pemerintahan Kolonial Belanda, didirikanlah sebuah yayasan Partikuler yang bergerak dibidang pendidikan yaitu Seinden School Padang Lambe tahun 1930

yang merupakan salah satu sekolah yang terletak diwilayah kekuasaan Pallempang Suli, selanjutnya Pandoso waktu itu adalah merupakan sebuah Kampung yang didalamnya terdapat 6 (Enam) Kampung yaitu Kampung Lengkong Karawak, Kampung Garampa’, Kampung Palendongan, Kampung Mangngulawa, Kampung Batu Balu (Buntu Ongko’) dan Kampung Paradoa. Pada masa itu pula Wilayah Pandoso terbagi 2 (Dua) Pandoso yang berada sebelah Timur dikuasai oleh Pallempang Suli dan Wilayah Pandoso yang berada disebelah Barat dikuasai oleh Sanggaria Bajo.

Pada tahun 1954 Gerombolan DI-TII menguasai Kampung Pandoso yang waktu itu dipimpin oleh Lumpaja selanjutnya tahun 1956 Lumpaja mengudurkan diri dan menyerahkan kepempinannya ke saudara Iparnya (Bpk Tome). Tahun Pada masa inilah Gerombolan DI-TII mengusai sepenuhnya Kampung Pandoso dan sekitarnya bahkan menjadi Basis persembunyiannya dan Seinden School Padang Lambe dibakar dan guru-guru nya sebagian di culik dan dibunuh.Guru sekaligus Kepala Sekolah yang terahir adalah Tuan Guru Temban.

Selanjutnya pada tahun 1964 Kampung Pandoso dimasukkan kedalam kekuasaan Desa Malela oleh Pallempang Suli, Pada Tahun tersebut terbentuklah Desa Gaya Baru yang dipimpin oleh Kepala Desa Muhammad.

Kampung Pandoso waktu itu menjadi Desa Percobaan (1965) namun karena masyarakatnya masih banyak yang mengungsi kedalam hutan maka pada tahun 1966, Desa Pandoso dicabut kembali dan menjadi salah satu Dusun dalam wilayah Desa Malela.

Pada tahun 1967 Wilayah Garampa’ yang waktu pemberontakan DI-TII ditinggalkan oleh masyarakat sehingga pada tahun inilah Kepala Desa Mauhammad meminta kepada Kepala Dusun Pandoso yang dipimpin Tome agar dikelolah dan diserahkan pengelolahannya kepada masyarakat Malela dengan perjanjian berbagi lokasi jika sudah berhasil kepada sang pemilik Lokasi.atas bantuan Opu Mappegau masyarakat Malela berbondong-bondong mencari Lokasi diwilayah Garampa’ untuk dikelolah.

Pada Tahun tersebut Masyarakat Pandoso kembali menata kehidupannya mereka kembali bermukim di Pandoso seputaran sungai,setelah Pemberontakan DI-TII berhasil dipulihkan oleh TNI. Pada tahun 1968 Perusahaan Non Pribumi yaitu BIROPEK menguasai Sebagian besar wilayah Pandoso dengan dalih hanya mengelolah dengan tanaman Hortikultura/Tanaman jangka pendek. selama ± 5 (Tahun) Perusahaan ini mengelolahnya namun berkat perjuangan Tokoh sekaligus Masyarakat 

Pandoso yang waktu itu kembali dipimpin Bapak Tome bersama dengan Ambe Raja serta Salah satu Anggota DPRD Kota Makssar yang turut andil yaitu Tadius Lelelangan sehingga BIROPEK waktu itu meningglkan Pandoso tepatnya tahun 1973. Pada jaman inilah Kepala Dusun Silih berganti antara Bpk Malaja dengan Bpk Tome. 

Pada tahun 1980 sampai dengan tahun 1983, kembalinya sebagian orang – orang yang diungsikan oleh Pemerintah pada jaman pemberontakan DI-TII, ke wilayah utara yaitu Seriti dan Rante Damai, mereka kembali ke kampung Paradoa.

Pada tahun 1989 Pemekaran wilayah Desa Buntu Kunyi dan meminta kepada Kepala Dusun Pandoso agar memasukkan wilayah Palendongan ke dalam wilayahnya, masyarakat waktu itu memahami hanya untuk mencukupkan wilayah Buntu Kunyi agar dapat mekar menjadi sebuah Desa, dan wilayah yang digabung menjadi Desa Buntu Kunyi adalah Palendongan (Dusun Pandoso Desa Malela), Buntu Kunyi (Dusun Buntu Kunyi Desa Botta), Buntu Siapa (Dusun Buntu siapa Desa Cimpu), Salam (Dusun Salama Desa Suli).

Pada tahun 1993 Dusun Pandoso memisahakan diri dari Desa Malela dan menjadi sebuah Desa dengan nama Desa Padang Lambe

dengan mengambil nama dari Seinden School Padang Lambe yang wilayah diambil dari Palendongan, Pandoso, Mangngulawa dan Paradoa, selanjutnya Desa Padang Lambe adalah Desa Persiapan dipimpin oleh Kepala Desa PJS. ANSAR TANDI RAJA. dengan wilayah Dusun Padang Lambe (Dossong), Dusun Pandoso, (Embon), Dusun Mangngulawa, (Sondeng) dan Dusun Paradoa, (Hawata Wari), Pada Tahun 1994 Kantor Desa dibangun dengan swadaya masyarakat, selanjutnya tahun 1995 Listrik Desa masuk ke 2 (dua) Dusun yaitu Dusun Pandoso dan Dusun Padang Lambe.